Bobong, Ufuktimur.com — Kondisi Pembangunan Infratruktur di Kabupaten Pulau Taliabu di masa kepempimpinan Bupati, Sashabila Mus dan wakil bupati, La Ode Yasir memprihatinkan. Betapa tidak, sudah kurang lebih 11 bulan dilantik Kabupaten Pulau Taliabu nyaris tak ada pembangunan fisik yang jalan.
Amatan Ufuktimur.com di tahun 2025 pasca pelantikan hanya beberapa Pembuangan fisik yang jalan yakni, Pekerjaan jalan Nggele – Langganu, Pekerja Jembatan Fangahu, dan Proyek penyebaran jalan dusun Fangahu. Namun dari beberapa proyek tersebut hingga saat ini belum juga tuntas 100 persen.
Mirisnya, Jalan dalam Ibu Kota mengalami kerusakan parah disejumlah titik namun dibiarkan begitu saja oleh Pemda. Uniknya, di beberapa titik jalan berlobang dalam kota ditambal oleh masyarakat menggunakan semen. Hal ini untuk menghindari kecelakaan lalulintas.
Pantauan di lapangan, jalan berlubang yang ditambal yaitu, di depan kantor Pengadilan Negeri kelas II Bobong, Perempatan Rumah Jabatan Bupati dan sejumlah titik lainnya. Sementara itu, jalan penghubung antar Desa terutama di bagian Taliabu Selatan tidak diperhatikan sama sekali oleh Pemda.
Tak hanya pembangunan fisik, perputaran ekonomi di ibukota pun memprihatinkan. Pasalnya, saat ini di pasar rakyat Bobong – Wayo banyak sayuran milik pedagang sering dibuang karena telah busuk. Bahkan, penghasil pedagang pun turun drastis dibandingkan tahun – tahun sebelumnya.
Beberapa pedagang Barito menyampaikan, bahwa sebelumnya, hasil jualan mereka bisa mencapai Rp.1.500.00 hingga 2.000.000 perhari, saat ini turun menjadi Rp.500.000 hingga 300.000 perhari itu pun jika ramai pembeli.
Kendati demikian, Bupati Pulau Taliabu, Sashabila Mus lebih memilih tinggal di Jakarta berbulan – bulan. Terhitung hingga saat ini, Bupati meninggalkan Pulau Taliabu sudah memasuki 7 bulan.
Kordinator Fron Peduli Taliabu, Lifinus Setu meminta Bupati Sashabila untuk segera kembali ke Taliabu. Kata dia, meski tinggal berlama – lama di Jakarta juga tidak membawa dampak positif terhadap kemajuan pembangunan Pulau Taliabu.
“Daripada tinggal berlama di Jakarta dan difasilitasi APBD tapi tidak membawa dampak positif untuk kemajuan Taliabu mendingan pulang dan ikut merasakan penderitaan Masyarakat di Taliabu,” ujarnya.
Lifinus menegaskan, kerusakan jalan dalam kota Bobong dan Wayo yang dibiarkan begitu saja kemudian menarik perhatian masyarakat dan menambal pakai semen tersebut itu menjadi tamparan keras buat Pemda.
“Guna apa ada pemerintah kalau jalan berlubang saja diperbaiki oleh masyarakat, inikan sangat memalukan. Sudah begitu, Bupati pun tidak pekah terhadap kondisi daerah ini. Kenapa jadi Bupati kalau merasa tidak mampu, mendur saja,” tegasnya.
Ia menyebutkan, tidak kembalinya bupati selama berbulan – bulan ini menandakan bahwa bupati itu tidak cinta terhadap daerah dan masyarakatnya sehingga memilih menikmati kemewahan di Jakarta.
“Ini tandanya Bupati tidak cinta terhadap negeri ini dan masyarakat Pulau Taliabu, kalau tidak kenapa tidak pulang dan bersama – sama dengan masyarakat disini,” pungkasnya. (red)





