Bobong, Ufuktimur.com — Pemerintah Daerah Kabupaten Pulau Taliabu, berlaku tidak adil terhadap masyarakat yang tanamannya terkena dampak pemasangan jaringan listrik baik di Taliabu Selatan maupun Taliabu Utara. Pasalnya, masyarakat Desa Kawalo dan Woyo yang tanamannya ditebang karena terdampak pemasangan jaringan listrik dibayar per pohon Rp.300.000 namun di Desa yang lain seperti Nggoli dan di Taliabu Utara tidak ada bayaran.
Padahal tanaman masyarakat yang ditebang itu kelapa, cokelat ataupun cengkih merupakan sumber penghasilan masyarakat dan sumber kebutuhan masyarakat serta sumber pembiayaan pembiayaan pendidikan anak – anak mereka.
Plt. Sekda Pulau Taliabu Ma’ruf mengatakan, Pemda tidak menganggarkan ganti rugi tanaman karena masyakat. Karena tidak ada anggaran.
“Tapi untuk pemasangan tiang listrik dari sebelumnya dan sekarang ini tidak ada ganti rugi tanaman dan ini sudah dilakukan di Taliabu Utara dan masyarakat Nggoli,” ujarnya.
Sementara itu, Kasat Pol PP, Kifli Panggola membayar tanaman masyarakat Desa Kawalo dan Woyo yang ditebang sebesar Rp.300.000 per pohon kelapa.
“Walaupun di tempat lain seperti di Desa Nggoli itu tidak ada bayaran namun, untuk masyarakat Kawalo dan Woyo, saya berinisiatif untuk membayar per pohon Rp.300.000 dan itu sudah disampaikan ke masyarakat pemilik tanaman,” kata Kifli saat menggelar pertemuan dengan Masyarakat Kawalo dan Woyo di Balai Pertemuan Desa Woyo, Sabtu (17/12/2025).
Hal ini mendapat sorotan Fron Pemuda Peduli Taliabu (FP2T), Suati Jamadin. Menurutnya, Pemda tidak berlaku adil terdahadap masyakat yang tanamannya jadi korban dalam proyek pemasangan jaringan listrik. Kata dia, ketidakadilan ini dipertontonkan Kasat Pol PP Pulau Taliabu.
“Masa Masyarakat Desa Kawalo dan Punya dibayar tapi Desa lain punya tidak dibayar inikan tidak adil. Masyarakat Kawalo Woyo dan Desa lain itu sama – sama jadi korban,” tegasnya.
Lanjut Sauti, jika memang Pemda tidak menganggarkan itu setidaknya bupati bisa berkoordinasi dengan Desa untuk bisa mencari jalan keluar terkait dengan tanaman warga yang jadi korban ini. Menurut dia masyarakat sudah mendukung program bupati terkait Taliabu Terang namun hasil keringat masyarakat tidak pernah dihargai sama sekali.
“Inikan namanya tidak adil dan tidak hargai keringat Masyarakat yang tanamannya ditebang. Perlu ibu bupati tau bahwa berkebun itu sakit, jadi kalau bisa hargailah masyarakat yang punya tanaman itu, jika tidak bisa lebih setidaknya bisa setara dengan orang Kawalo dan Woyo punya yang Rp.300.000 itu,” tandasnya. (Red)






