Bobong, ufuktimur.com — Respon Mantan Bupati Kepulauan Sula, Ahmad Hidayat Mus (AHM) terkait kerusakan jalan Tanjakan Gunung Sampe adalah peninggalan pemerintahan sebelumnya itu hanya untuk menutupi kegagalan putri sulungnya yang menjadi Bupati Pulau Taliabu saat ini.
Betapa tidak, kurang lebih 10 bulan memimpin Pulau Taliabu hampir tak ada pembangunan. Bahkan, Bupati Pulau Taliabu, Sashabila Mus lebih banyak menghabiskan waktu di jakarta dibanding berada di Taliabu. Bedasarkan catatan ufuktimur.com, Bupati Sashabila Mus meninggalkan Taliabu sejak bulan 22 Agustus 2025 hingga 12;Februari 2026 belum juga kembali ke Taliabu.
“Respon AHM terkait peristiwa kecelakaan di Gunung Sampe dan menyalahkan pemerintahan sebelumnya itu hanya menutupi kegagalan putrinya yang memimpin Taliabu saat ini,” ungkap Serly Bantu Praktisi Hukum, Kamis (12/2/2025).
Menurut Serly, semestinya AHM mengevaluasi kinerja Bupati Sashabila di tahun pertama ini, bukan malah menyalahkan pemerintahan sebelumnya. Kata Dia, AHM seharusnya menyampaikan ke Bupati bahwa kekurangan pemerintahan sebelumnya itu harus menjadi evaluasi di pemerintahan saat ini.
“Kalau mau dibilang, di tahun pertama ini Sasha tidak berbuat apa – apa terutama pembangunan infrastruktur seperti jalan dan jembatan. Yang harus disalahkan ya harus Bupati Taliabu saat ini, karena tidak buat perbaikan tanjakan Gunung sampe sehingga menimbulkan kecelakaan,” tegasnya.
Lebih lanjut, Alumni Magister Hukum Universitas Jayabaya ini menyebutkan bahwa pemerintahan sebelumnya dan saat ini lahir dari tangan AHM, sehingga kegagalan dua pemimpin ini adalah bagian dari kegagalan AHM. Karena itu, Ia meminta AHM untuk lebih profesional dan objektif dalam melakukan penilaian.
“Tidak perlu saling menyalahkan, yang perlu dilakukan AHM adalah mengawal pemerintahan sekarang agar tidak sama seperti sebelumnya,” tegasnya.
Berikut kutipan pernyataan Mantan Bupati Kepulauan Sula dua periode sebagaimana dilansir oleh tribunternte.com, pada Selasa, (10/2/2025). Mantan Bupati Sula dua periode juga menyayangkan pekerjaan pembangunan jalan di tanjakan Gunung Sampe yang dilakukan pada masa pemerintahan sebelumnya.
“Perlu diketahui, rata-rata jalan yang ada saat ini merupakan proyek pemerintahan sebelumnya,” katanya.
Ia menilai, pembukaan badan jalan sejak awal seharusnya tidak seperti kondisi yang ada sekarang.
Kontraktor, kata dia, harus lebih teliti dalam melaksanakan pekerjaan fisik, apalagi jalan tersebut merupakan akses utama masyarakat.
“Saya juga sangat menyayangkan, dari awal mengapa kontraktornya tidak memangkas atau menurunkan tanjakan di situ. Padahal itu akses utama warga yang bolak-balik ke Kota Bobong,” imbuhnya. (Red)






